Skip to main content

Posts

Ledakan Kosmik Di Aliran Vena

Tiga atau empat tahun sudah berlalu. Banyak hal yang terjadi juga tentunya dalam rentang waktu tersebut. Tentang jalanku yang semakin gelap tidak punya tujuan dengan arah yang sembarangan. Hari-hari kebanyakan aku jalani dengan sekadar cukup bertahan hidup saja sudah merupakan pencapaian yang cemerlang. Aku lupa kalau jantungku masih berdetak artinya masih punya kesempatan untuk melakukan hal-hal lain yang jauh lebih bermanfaat, aku lupa kalau napasku masih berhembus setiap hari artinya selalu ada kesempatan untuk perbaiki diri, aku lupa kalau masih bernyawa artinya Tuhan begitu baik memberikan waktu tambahan untuk bersyukur karena masih diberikan hidup. Terlalu mahal harganya bahkan seluruh gaji bulananku juga tak mampu membayar segala berkah dariNya. Aku tidak pura-pura buta, tidak juga pura-pura tidak merasa. Sampai hari ini pun, aku masih mampu melihat banyak hal nyata yang terlalu indah, batinku juga merasa, “Tidak mungkin tidak ada campur tangan magis dariNya sampai aku bisa sela...
Recent posts

Fragmen Kosmik Di Sorot Matanya

Kira-kira empat bulan berlalu setelah aku bertemu dengan dia untuk yang pertama kalinya. Ada yang berbeda setelahnya. Entah, sulit aku jelaskan dengan lugas. Tapi tubuhku jelas ada yang berubah. Meski terasa samar, namun aku yakin kadar hormon serotonin dalam tubuhku mendominasi. Menekan hebat perasaan stres dan cemas sehingga hormon kortisol seakan tak punya ruang untuk mengusik. Aku masih ingat dengan jelas saat dia tepat berada di sampingku. Tiba-tiba mulutku menjadi gugup dan menjawab pertanyaan darinya dengan serampangan kemudian rasanya saat tidak sengaja mata kita saling menatap, waktu menjadi melambat ekstrem seperti berada terlalu dekat dengan Gargantua . Sepersekian detik momen yang tercipta di antara tatap kita seperti terjadi dilatasi waktu, detik melamban dan ritme detak jantungku menjadi pelan. Hari demi hari setelahnya aku lewati dengan suka cita, perasaan bahagia yang langka kini mulai melekat seiring ritme detak jantungku yang lebih stabil. Bagaimana kamu biasanya s...

Malfungsi Empati

Terbangun dari tidurnya semalam yang kurang nyenyak, dia mulai beranjak dari kasur sempit yang cuma muat untuk satu orang. Tidak langsung penuh sadar, dia masih mengucek mata sebelah kirinya sambil memulihkan kesadarannya. Terlihat sinar matahari mengintip dari sela-sela jendela yang langsung masuk menembus ke dalam kamarnya. Sudah terbiasa bangun tidurnya kini berantakan. Kalau saja memang benar pepatah “Rezeki dipatok ayam karena bangun kesiangan.”, mungkin ayam-ayam di sekitar rumahnya sudah jadi juragan ayam sebab bangun tidurnya selalu lewat pukul sebelas siang. Seperti bertransformasi ke arah yang muram, kini dia sudah benar-benar berubah dari yang aku kenal sebelumnya. Seorang yang setiap hari kutemui dengan senyum bahagia dan nada suara yang terdengar selalu ceria menjelma menjadi seorang yang skeptis dengan tatapan yang paling sinis. Tajam. Jika kamu belum mengenalnya sebelumnya, besar kemungkinan tidak ada keinginan untuk terlibat dengan hidupnya atau untuk sekadar bertegur s...

Malam Ini Bulannya Cantik, Ya?

Senin pagi, sebelum memulai hari sudah aku pastikan dulu pesan ucapan selamat pagi dariku terkirim centang dua menuju nomor Whatsappmu. Tidak berselang lama, ceklis centang dua berubah warna biru jadi tanda ucapannya sudah tersampaikan dan dibaca tuntas olehmu. “Pagi juga jagoan!” Balasmu cepat. Ucapan selamat pagi yang singkat dan terjadi berulang tapi tidak pernah bosan-bosannya aku baca selalu. Seakan jadi booster tambahan untuk menerabas segala macam mungkin yang belum pasti. Rasanya percaya selalu utuh meski banyak manusia lain yang pergi, tapi aku selalu tahu ada kamu yang tetap tinggal menemani. Hari-hari itu penuh menyenangkan, bahkan tidak ada satu hari pun yang aku sesali. Masuk di jam kerja kadang-kadang bibirku senyum-senyum sendiri sambil membaca pesan terbaru darimu. Ditambah Anything You Want dari Reality Club yang terputar sopan di telinga. Waktu rasanya bergulir lamban dibarengi dengan hormon serotonin yang mengalir kencang ke seluruh tubuh. Tentu, hal seperti ini tid...

Samsara Jelita

Pukul 10 pagi, perasaan tidak tenang, cemas yang terlalu berlebih untuk memulai hari. Dia masih ada di mana-mana. Melekat di dalam kepala, menjelma debu-debu di kolong meja kerja, sampai meyerupai bulir-bulir darah yang mengalir deras di arteri. Semakin lama, semakin dekat hingga rasanya seperti leher tercekik kuat. Napas terengah-engah, rupanya ini semakin menyiksa. Tapi… Sebentar. Ada notifikasi baru di handphoneku. Ternyata, dia datang lagi berupa pesan WhatsApp, “Kamu di mana? Balasnya kok lama, lagi sama siapa kamu? JAWAB TELPONKU SEKARANG!” Tanganku gemetar hebat. Ini bukan kejadian sekali, dua kali, ini bahkan repetitif yang sudah berulang berkali-kali. Meski begitu, jariku tetap gentar menerima panggilan darinya. Karena pasti yang aku dengar adalah segala macam sumpah serapah yang terucap dengan liar tanpa jeda dari mulutnya. Aku bergeming, membiarkan handphoneku bergetar hingga panggilan itu berakhir dengan sendirinya. Tidak berselang lama, muncul lagi serentetan panggilan den...

Aritmia

Kehilangan selalu tidak pernah menyenangkan. Artinya ada sesuatu yang kamu lepaskan, entah memang harus dilakukan ataupun terpaksa karena keadaan. Perasaan kosong karena ada hal yang akhirnya berbeda dari biasanya harus segera dibiasakan. Menerima jadi jalan untuk tetap bertahan. Kata orang kebanyakan, “Kamu harus kuat”, “Coba ikhlaskan saja”, “Memang jalannya seperti itu, diterima ya.” Yang semua intinya adalah membiasakan diri dengan kehilangan. Mereka tidak salah, tapi juga tidak mudah untuk diterima. Ditambah kehilangan seseorang maupun sosok yang sangat berdampak dalam hidup, pastinya tidak mudah, bukan? Aku mencoba menerima bertahun-tahun. Mencoba yang mereka sebut ikhlas, tapi di dalam dada yang ada rasanya sesak berantakan. Rasanya seperti dadamu ditusuk dengan bilah pedang yang tajam, sialnya tidak hanya satu, tapi puluhan bahkan ratusan bilah pedang menusuk tepat di dada kirimu lalu mengoyak liar jantungmu sampai detaknya tak karuan. Brutal. Lalu aku tetap teruskan ...

Perayaan Tahun Kelima

10 Juni 2020. Iya, sudah lima tahun berlalu sejak kematianmu. Dan di tahun ini akan aku rayakan dengan menuliskan segala macam hal yang sudah berlalu lama, tapi pedihnya masih terasa nyata. Aku mulai dengan banyak maaf untukmu. Bapak, maaf, kolam ikan kesukaanmu di depan rumah sudah aku ratakan menahun yang lalu. Soalnya setiap pagi kalau aku lihat malah semakin menyayat hati. Aku juga sudah tidak sudi menguras kolamnya sendiri. Apalagi melihat ibu yang selalu sedih setiap kali memberi makan ikan-ikannya. Pekarangan kecil di sekitar rumah yang biasanya kamu isi dengan ragam tanaman juga sudah aku tindih semen hari ini. Agar tidak perlu lagi ada kesedihan yang tumbuh di rumah ini. Kemudian aku lanjutkan dengan membuka kembali ingatan yang semakin menggores hati. Aku masih ingat betul, di tahun kedua kematianmu. Aku berhenti memakai baju bekasmu dan mulai mengosongkan setumpuk bajumu dari dalam lemari. Tapi istrimu malah mengomel dan memarahiku. Katanya dengan napas yang berantakan, ...